Rutinitas yang sama,seperti hari-hari yang sudah berlalu, beserta keburukan-keburukan menyertai. Dimulai dengan pembantu gue yang salah menyiapkan makanan, gue udah jelas-jelas minta ebi furai digoreng lembab, tapi malah dibikin kering.
Berangkat sekolah, selalu disertai teriakan-teriakan bokap dan nyokap, suruh cepetanlah, apalah, nggak guna dan cuma bikin polusi suara.
Sampai di sekolah, pagar udah mau ditutup,tinggal sedikit lagi, tapi tetep aja gue ditahan disitu sama wakil kepala sekolah. Dimarah-marahin tentang kedisiplinan waktu, lebih siap kalau jalanan macet atau jarak rumah jauh, apalah. Yaelah, gue cuma telat 16 menit 20 detikan. Penting ya dimarah-marahin begitu?
Masuk kelas, hari gue semakin menjadi-jadi. Nilai try out kimia sama fisika, ga ada yang bener. Angka tahun kemerdekaan Indonesia aja gak nyampe! Kena amukan guru lagi.
AC kelas panasnya juga mendukung konspirasi hal buruk hari ini. Gue udah cukup syarat untuk jadi Rotiboy matang siap hidang. Buat apasih bayar sekolah mahal-mahal kalau cuma buat dipanggang begini di kelas?
Belum lagi, temen-temen gue ikut berulah. Pernah ngerasa kalau ga ada orang,satupun, seperti sepihak sama kita?ya seperti itulah yang terjadi
Satu-satunya yang melegakan adalah jam pulang. Gue langsung kabur dari segala hal yang mengganggu---. Gue cabut rapat yang emang seharusnya gue ikut. Penat gue bener-bener pol sama semua itu.
Akhirnya gue pulang walau gak kerumah, mampir ke warung di deket kompleks. Tambah sempurna lagi hari gue ini dengan uang yang ternyata secara magis hilang dari dompet gue. 50.000! jadi terpaksa gue ngutang sama ibu-ibu warung. Kejutekan pun dia keluarkan ---kabur aja gue.
Bener-bener hari yang buruk, satu dunia tampaknya bekerjasama memberikan hal yang buruk ke gue.
Gue pun memutuskan untuk jalan kaki saja ke rumah.
Sebuah odong-odong lewat. Odong-odong murahan yang biasa lewat di kompleks yang pasti sering lo liat, dibuat dari bekas ---- tempat hiburan anak kecil seperti dufan, memasang lagu anak kecil atau dangdut -apapun bisa sebenarnya, yang penting cukup mengganggu- sehingga anak kecil tertarik untuk naik.
Jalannya cukup lambat untuk gue menghindar dari odong-odong itu. Tapi sayangnya, ada yang tidak cukup beruntung dalam menghindari mesin tua tersebut. Dia lah my-soon-to-be friend tersebut.
Badannya dekil hitam, kotor karena 24 jam bertahan di kerasnya jalanan kehidupan. Dia terbaring kesakitan, badannya bergetar-getar seakan-akan ditimpa tekanan yang tidak terlihat mata. Disebelah tempat dia berbaring, darah mengalir dari lehernya, tidak sedikit tidak banyak, tapi cukup untuk memberi tahu kalau dia sekarat, mengenaskan.
Gue berjalan melewati Dia tanpa sedetikpun mengalihkan pandangan darinya. Tiba-tiba tekanan yang tadi menimpanya lepas dan dia terlontar jauh dari tempat dia terbaring dan terus meronta-ronta kesakitan tanpa henti, badannya bergetar kencang serta berteriak keras sekali tapi tanpa suara. Tidak hanya gue, seorang kakek tua dan seekor kucing hitam kurus juga memerhatikan Dia. Sekarang tekanan itu pindah ke kakek,kucing, dan gue sendiri. Memaksa untuk terus melihat Dia, berbagi rasa sakit yang Dia rasakan.
Sungguh teman yang sangat baik Dia itu! Disaat keadaan gue yang sangat terpuruk, dia bahkan lebih terpuruk lagi. Disaat gue mendapatkan semua hal buruk di kehidupan untuk gue jalani, dia dipaksa mendapatkan keburukan untuk meninggalkan kehidupannya.
Gue sangatlah beruntung, bertemu dengan Dia yang sangat tidak beruntung.
Akhirnya gue terus berjalan menuju rumah yang berjarak tinggal dua atau tiga rumah lagi, sambil terus memandang teman terbaik gue yang baru itu. Mungkin sebagai tanda terimakasih, gue seharusnya mengubur dia dengan baik, mengucapkan sepatah-dua patah kata untuk mengantar kepergiannya. Setidaknya, mungkin semut atau kecoa selokan mendengarkan.
Namun selagi gue memikirkan hal tersebut, kucing hitam yang dari tadi juga turut memandangi kisah tragisnya, meraup tubuhnya dan menggiringnya ke bak sampah terdekat untuk santapan malam. Lumayanlah, sebuah tikus got besar tergeletak mati yang tidak perlu susah-payah diburu, bisa mengenyangkan perut kucing hitam garong tersebut.
Beruntung sekali kucing itu.












